Oleh: kris | 23 Agustus 2009

Indikator Ekonomi Yang Menyesatkan

menyesatkan

Diadopsi dari tulisan Vincent Gaspersz

Petinggi (Presiden, Gubernur, dan Pejabat Negara Indonesia lainnya) dan ahli ekonomi negara kita sering membanggakan indikator pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Bahkan, dalam pidato kenegaraan (di Provinsi NTT pidato kenegaraan disampaikan oleh Gubernur NTT melalui radio), tingginya angka pertumbuhan ekonomi selalu diidentikkan dengan sukses dalam hal membangun perekonomian Indonesia (dalam kasus NTT dianggap sukses membangun NTT).

Contohnya adalah penyampaian pendapatan Per Kapita Rp. 4,4 Juta yang dijadikan berita utama Pos Kupang, Minggu 16 Agustus 2009 (http://www.pos-kupang.com/read/artikel/33249/pendapatan-perkapita-rp-44-juta). Disebutkan juga bahwa pertumbuhan ekonomi NTT sebesar 4,8 persen!Jika ada pernyataan bahwa pertumbuhan ekonomi Jepang adalah 2,4 persen sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 5 persen, dan pertumbuhan ekonomi NTT adalah 4,8 persen; maka apakah kemudian boleh ditarik kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dan NTT lebih tinggi atau lebih baik daripada pertumbuhan ekonomi Jepang? Kemudian apakah juga boleh dinyatakan bahwa kesejahteraan orang NTT lebih baik daripada kesejahteraan orang Jepang, karena pertumbuhan ekonomi NTT lebih baik daripada pertumbuhan ekonomi Jepang? Tentu inilah yang disebut menyesatkan, karena jawabnya adalah SALAH BESAR!!

Coba kita merenungkan beberapa fakta berikut:

Pertumbuhan ekonomi Jepang selama periode 1975–2004 rata-rata hanya bertumbuh 2,3%; sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia selama periode yang sama 1975–2004 bertumbuh sekitar dua kali lipat dari rata-rata pertumbuhan ekonomi Jepang. Tetapi mengapa fakta menunjukkan bahwa masyarakat Jepang jauh lebih maju sekian puluh tahun dan lebih sejahtera dalam hal pendapatan ekonomi daripada masyarakat Indonesia?

Jika kita mengasumsikan bahwa ramalan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh sekitar 5% pada tahun 2010 dan pertumbuhan ekonomi Jepang hanya tumbuh sekitar 2,4 % pada tahun 2010, maka informasi ini bukanlah satu-satunya bagi kita untuk menarik sebuah kesimpulan. Mari kita melihat fakta, berapa besar angka nilai moneter (dolar Amerika) jika pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5% dan berapa nilai moneter (dolar Amerika) jika pertumbuhan ekonomi Jepang sekitar 2,4%?

Pada tingkat produk domestik bruto Jepang yang sekitar USD4.6228 triliun, maka pertumbuhan yang hanya 2,4% akan menghasilkan nilai sekitar USD110.9472 miliar, sedangkan pada tingkat produk domestik bruto Indonesia yang sekitar USD257.6 miliar, maka pertumbuhan sekitar 5% hanya akan menghasilkan nilai sekitar USD12.88 miliar. Berapa Dolar Amerika untuk pertumbuhan ekonomi NTT yang 4,8 persen itu? Jelas tampak bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 10% (suatu hal yang mustahil bagi Indonesia) atau pertumbuhan ekonomi NTT yang 100% sekalipun (juga sangat mustahil bagi NTT) hanya akan menghasilkan kurang dari 12% (12.88 milyar dibagi 110.9472 milyar dikalikan 100% sama dengan 11,61 persen) dari nilai pertumbuhan produk domestik bruto Jepang yang hanya bertumbuh 2,4% itu. Tetap terjadi ketimpangan yang menjulang!

Selanjutnya, para ahli ekonomi dan petinggi negara (termasuk Gubernur NTT) kita menciptakan lagi indikator kinerja produk domestik bruto (PDB) per kapita. Indikator ini juga menyesatkan jika tidak didukung oleh asupan data pendukung lain. Hal ini karena indikator tersebut mengasumsikan semua penduduk akan membagi rata besaran produk domestik bruto. Padahal, fakta menunjukkan bahwa ada ketimpangan antara langit dan bumi dalam pembagian produk domestik bruto itu. Data yang dikeluarkan oleh Human Development Report tahun 2006 menunjukkan bahwa meskipun PDB per kapita Indonesia (USD1.184) lebih tinggi daripada PDB per kapita Filipina (USD1.036), namun berdasarkan indeks pembangunan manusia (human development index) posisi Indonesia berada pada urutan ke-108 jauh di bawah posisi Filipina yang berada dalam urutan ke-84. Malahan Indonesia hanya berada satu tingkat di atas Vietnam yang berada pada urutan ke-109, meskipun Vietnam hanya memiliki PDB per kapita sekitar setengah dari Indonesia (PDB per kapita Vietnam = USD550).

Tampak jelas bahwa informasi pertumbuhan ekonomi dan PDB per kapita ansih belum mampu memberikan cukup gambaran yang positif bagi peningkatan pembangunan kesejahteraan manusia di Indonesia (termasuk NTT) selama ini. Indeks pembangunan manusia (IPM) pada tahun 2004 (Human Development Report 2006) yang disusun berdasarkan kriteria: (1) umur harapan hidup (tahun), (2) tingkat melek huruf penduduk berusia 15 tahun ke atas (persen), (3) kombinasi rasio penduduk yang terdaftar pada pendidikan dasar, menengah, dan tinggi (persen), dan (4) PDB per kapita, menunjukkan bahwa posisi Indonesia (108) berada sama dengan Vietnam (109), jauh di bawah Filipina (84), China (81), Thailand (74), Malaysia (61), Singapura (25), Jepang (7), Canada (6), Australia (3) dan Norwegia (1). Bagaimana dengan IPM NTT di tingkat nasional, regional, dan internasional?

Pada tahun 1990, indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia (0,626) hampir sama dengan IPM China (0,628). Namun, setelah perjalanan waktu 1990–2004, pembangunan masyarakat China jauh meninggalkan Indonesia dan melejit ke urutan nomor 81 dari 177 negara yang diukur meninggalkan Indonesia di urutan nomor 108 bersama Vietnam (nomor 109) yang pada tahun 1990 jauh tertinggal dari Indonesia (IPM Vietnam 1990 = 0,618). Sebentar lagi Vietnam akan melampaui Indonesia, karena meskipun PDB per kapita Vietnam hanya USD550 di bawah Indonesia yang memiliki PDB per kapita USD1.184, pembangunan manusia Vietnam sangat terarah, misalnya: umur harapan hidup penduduk Vietnam (70,8 tahun) sedangkan penduduk Indonesia lebih rendah (67,2 tahun), tingkat melek huruf penduduk berusia 15 tahun ke atas hampir sama, yaitu: Vietnam (90,3%) dan Indonesia (90,4%), kombinasi rasio penduduk yang terdaftar pada pendidikan rendah, menengah, dan tinggi dari Indonesia (68%) sedikit lebih tinggi daripada Vietnam (63%), penggunaan teknologi internet dari penduduk Vietnam (71 per 1000) lebih tinggi dari Indonesia (67 per 1000), persentase PDB yang dikeluarkan untuk kesejahteraan publik dari Vietnam (1,8%) lebih tinggi dua kali dari Indonesia (0,9%).

Disebutkan pula dalam pidato Gubernur NTT bahwa anggaran belanja TA 2009 sebesar Rp 1 triliun atau naik 2,18 persen. Rencana belanja ini sampai dengan 30 Juni lalu telah direalisasikan sebesar Rp 347 miliar atau 33 persen. Apakah kita mengetahui bahwa anggaran belanja sebesar Rp. 1 Trilyun itu hampir 75 persen dipergunakan oleh pemerintah daerah NTT untuk membayar gaji PNS, membiayai pejalanan dinas pegawai, dll; sedangkan yang benar-benar dipergunakan untuk membangun infrastruktur dan modal (investasi) pembangunan NTT hanya kurang dari 20 persen saja? Sehingga kita harus BIJAK terhadap penyampaian indikator-indikator ekonomi Indonesia (termasuk NTT) yang terkadang MENYESATKAN rasio (nalar) kita.


Tanggapan

  1. Indikator makro sih boleh-boleh saja terutama untuk pencitraan. Tapi kalu mau objektif lihat kondisi rill, apakah pertumbuhan itu benar-benar terjadi secara kasat mata?

    Terimakasih atas komentar Anda, berkaitan dengan pencitraan, ada buku yang menarik berjudul”Berbohong Dengan Statistik”, hal inilah yang seringkali dilakukan oleh politisi untuk mencari posisi. Namun alangkah bijak bagi kita untuk mengatakan STOP atas kelakuan yang tidak bijak dan pada akhirnya merugikan masyarakat, tentunya kita juga termasuk didalamnya, perlahan namun pasti kondisi chaos akan terjadi


Beri tanggapan

Your response:

Kategori