Surabaya, Sinar Harapan
Forum Masyarakat Korban Sampah Sukolilo (Formakosas) akhirnya melaporkan Walikotamadya Surabaya Sunarto Sumoprawiro ke Polwiltabes Surabaya.
Laporan itu terkait dengan ancaman Pe-merintah Kota (Pemkot) Surabaya yang akan mempidana-kan warga Sukolilo jika menghalangi jalan menuju tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Sukolilo.
Dalam laporannya ke Polwiltabes Surabaya tanggal 16 Oktober 2001 bernomor LP/K/1073/X/2001/Pamapta itu, antara lain, disebutkan telah terjadi peristiwa/perkara penipuan tempat kejadian perkara Kelurahan Keputih, Kecama-tan Sukolilo yang dilakukan oleh Sunarto Sumoprawiro kepada warga Keputih, Sukolilo dan Walhi Jatim.
Menurut kuasa hukum warga Sukolilo, Susianto SH, laporan itu sebagai tuntutan balik warga Sukolilo kepada walikota. ”Penutupan jalan menuju TPA itu sebenarnya reaksi, bukan aksi. Tapi, walikota menuding kita menghasut dan me-lakukan ancaman teror. Padahal, dia sendiri yang wanprestasi dan melakukan adu domba antarwarga Keputih,” kata Susianto.
Formakosas pada Rabu (17/10) siang juga mendatangi DPRD Surabaya dan mela-kukan dialog dengan sejumlah anggota dewan dan jajaran Pemkot Surabaya. Namun, dialog itu belum membuahkan hasil. Dalam dialog terungkap Pemkot Surabaya meminta waktu mundur tiga bulan untuk penyelesaian TPA Sukolilo. Permintaan itu terkait dengan pembangunan TPA Benowo yang belum selesai.
Jajaran dewan yang nampak hadir adalah Ketua DPRD M Basuki, Wakil Ketua Ali Burhan, Isman (FPDIP), Ir Sudirjo (F-Gab), AKBP Puji Astutik (FTNI/Polri). Selain itu, juga Asisten II Sekkota, Kadispol PP, Kadri Kusuma dan Kadis Kebersihan, Ismanu serta Kapolresta Surabaya Timur AKBP Safaruddin.
Ketua Formakosas, H M. Fathoni tetap menyatakan tidak bisa memenuhi permintaan membuka LPA Sukolilo sampai April 2002. Sebab, sebelum 20 wakil warga Keputih datang ke DPRD Surabaya, sudah ada rapat yang memutuskan warga menutup LPA Sukolilo selamanya. ”Kalau saya berubah, saya bisa dikucilkan. Masyarakat Keputih itu sangat kuat. Apa bapak-bapak tega kalau saya sampai digebuki,” ujarnya dengan suara agak bergetar.
Ketua DPRD Surabaya, M Basuki minta semua pihak tidak larut dalam adu argumen yang tidak berujung pangkal. Sebab, belum 10 hari saja, sampah sudah bertumpuk-tumpuk di jalanan. ”Semua yang ada di sini pandai ngomong. Terutama Pak Susianto. Kalau kita anggota dewan pasti kalah sama dia. Tapi, marilah di sini kita saling merendahkan diri,” pintanya.
Menurut dia, dewan hanya minta warga membuka LPA Sukolilo sampai April 2002 saja. ”Setelah itu, warga Ke-putih bebas dari sampah untuk selamanya. Kalau Pemkot tidak melaksanakan, nanti dewan yang menjadi jaminannya,” ujarnya.
Kepala Dinas Kebersihan, Ismanu juga meminta hal se-nada. Dia meminta diberi ke-sempatan enam bulan lagi un-tuk memenuhi janji Pemkot. Menurut Ismanu, meskipun baru tiga bulan menjabat sebagai Kadis Kebersihan, tapi ia sudah berupaya untuk membenahi kawasan Keputih. Bahkan, tak lama lagi janji membangun Puskesmas akan segera direalisasi.
Sejak dua hari lalu, Ismanu mengaku terpaksa membuka LPA Benowo akibat penutupan LPA Sukolilo oleh warga setempat. Hari pertama untuk uji coba dan hari kedua sudah dilakukan pembuangan. Hambatannya, truk sampah rodanya masih sering ambles karena jalannya belum baik. ”Beri kesempatan saya untuk membenahi LPA Benowo,” ujarnya.
Sampah Meluber
Sementara itu, hingga hari kelima, Kamis (18/10) ini, sejumlah tempat pembuangan sementara (TPS) yang ada di Surabaya mulai tak mampu menampung timbunan sampah. Sebab, tiap hari rata-rata tiap TPS mendapat tambahan sekitar 14 meter kubik sampah.
Setiap hari, kota Surabaya menghasilkan sekitar 8.000 meter kubik sampah, sehingga kini sudah menumpuk sekitar 40.000 meter kubik sampah yang tersebar di TPS-TPS kota Surabaya. Jumlah tambahan sampah di masing-masing TPS tidak sama. Umumnya, TPS yang berdekatan dengan pasar tradisional terbebani sampah lebih banyak, seperti TPS di depo Jalan Pandegiling yang berdekatan dengan Pasar Pandegiling dan Keputran.
Kondisi serupa juga terjadi di TPS Kendangsari. Dua buah kontainer berkapasitas masing-masing 14 meter kubik sudah penuh dan tidak terangkut sejak Minggu (14/10) lalu. Sampah lainnya yang menyusul terpaksa dibiarkan menumpuk memanjang di TPS dan sekitarnya. Bahkan, kini sudah mulai meluber ke jalan dan sebagian ada yang masuk sungai di sebelah TPS. (bud)

