Oleh: kris | 6 November 2007

Selamatkan Bumi !!!

Oleh Iden Wildensyah *)

Permasalahan linkungan hidup bukan semata – mata persoalan moral, persoalan perilaku manusia demikian pula dengan krisis ekologi global yang kita alami dewasa ini adalah persoalan moral, krisis moral secara global. (A.Sony Keraf)

Tanggal 22 april 2005 yang akan datang penduduk diseluruh dunia akan memperingati hari bumi, sebuah peristiwa gerakan lingkungan akar rumput yang menggerakan hampir 20.000.000 orang turun kejalan di New York dalam catatan TIME tahun 1970. peristiwa yang di prakarsai oleh senator Gerlorfd Nelson ini berawal dari kekhawatirannya melihat kualitas lingkungan hidup yang semakin menurun, dalam peristiwa hari bumi itu ia menyebutkan sebagai ledakan akar rumput yang sangat mencengangkan. Masyarakat umum sungguh peduli dan hari bumi menjadi kesempatan pertama sehingga benar-benar dapat berpartisipasi dalam suatu demonstrasi yang meluas secara nasional, dan dengan itu menyampaikan pesan yang serius dan menatap kepada para politisi untuk bangkit dan berbuat sesuatu.Kekhawatiran akan merosotnya kualitas daya dukung lingkungan ini terlihat dari semakin tingginya pencemaran udara,air dan tanah yang disebabkan oleh menjamurnya pabrik – pabrik industri serta tingkat produksi yang tinggi mengejar keuntungan. Dampak hari bumi pada tahun itu adalah dibentuknya sebuah badan lingkungan hidup Enviromental Protection Agency, keberhasilan EPA salah satunya dapat menekan tingkat pencemaran udara.

Kesadaran untuk bisa peduli terhadap ala ini ternyata membutuhkan waktu yang lama, untuk “membumikan” hari bumi pun Gerlorfd Nelson bergerak sampai 10 tahun, Karena isu lingkungan adalah isu yang satu sama lain terkait didalamnya sehingga dibutuhkan sebuah sinergi gerakan lingkungan untuk memecahkan satu persatu masalah lingkungan yang kita hadapi. Hubungan kita dengan dengan kelestarian hidup di bumi ini dalam kaitannya dengan kegiatan ekploitasi alam memunculkan beberapa macam utang. diantaranya pertama, kita berutang kepada bumi atas makanan (sustenance) yang diberikan kepada kita dan semua jenis mahluk hidup lainnya. Kedua, kita berutang kepada bumi atas kerusakan atas kerusakan yang kita perbuat terhadapnya. Untuk yang pertama kita tak bakal mampu melunasinya, sedangkan yang kedua, kita menangguhkannya dengan resiko yang bakal kita tanggung kemudian.(CEJI,2003:3) ketiga, kita berutang kepada orang- orang terpinggirkan dan termiskinkan, terutama penduduk pribumi, yang paling sering menjadi korban pertama akibat kerusakan lingkungan.

Dalam jurnal Wacana edisi 12 tahun 2002, Thomas barry seorang ekoteolog mengatakan bahwa utang kerusakan lingkungan menyebabkan “bumi mengalami defisit…sebagimana tampak dari macetnya sistem kehidupan dasar dari planet ini akibat penyalahgunaan udara, air, tanah dan vegetasi. Tanggung jawab atas defisitnya bumi ini terbagi tidak secara merata dimana golongan yang kaya menikmati sendiri bagian yang tak sepadan, terlampau besar, disbanding dengan kapasitas yang mampu di sediakan oleh planet ini. Golongan minoritas ini melakukan overekploitasi terhadap bumi, berutang bukan saja kepada bumi, namun juga kepada golongan mayoritas yang mengonsumsi lebih sedikit ketimbang jatah (fair share) mereka yang seharusnya atas kekayaan bumi.

Arus perdagangan bebas dan globalisasi yang pesat dalam mengejar keuntungan dan tenaga yang sedikit serta industri yang merajalela serta target target ekspor dan impor memaksa alam untuk memacu produktifitas tinggi mempunyai negatif terhadap alam itu sendiri seperti yang ditulis dalam paper CEJI (the Canadian Ecumenical Jubilee Initiative),2002. overproduksi untuk ekspor ini memperburuk kecenderungan –kecenderungan ekologis diantaranya.

Pertama, penggundulan hutan yang cepat menghancurkan keanekaragaman hayati, dan mengubah lahan yang subur benar – benar menjadi gurun pasir yang sangat luas. “ sejak tahun 1970, daerah yang berpepohonan per 1000 penduduk telah menurun drastis dari 11,4 km2 menjadi 7,3 km2 (UNDP,1984:4);

Kedua, penggunaan lahan – lahan tersubur bagi tanaman ekspor memaksa kaum petani berpindah – pindah kedaerah pinggiran misalnya, di lereng – lereng bukit yang curam yang rawan terkena erosi, akhir – akhir ini menyebabkan tanah longsor yang mematikan seperti di Honduras, Nikaragua dan Venezuela;

Ketiga, meningginya penggunaan pestisida dan pupuk kimia. Misalnya, industri pisang di beberapa Negara menggunakan pestisida jenis DBCD dan mengakibatkan kemandulan bagi kaum lelaki;

Keempat, kerusakan rawa – rawa bakau akibat peternakan udang membuat daerah – daerah pesisir semakin rawan terlanda banjir. Di Ekuador, sebanyak 70 % hutan bakau telah ditebang untuk dijadikan lahan peternakan udang, yang lantas berdampak pada mata pencaharian kaum nelayan tradisional, dan memperburuk banjir yang diakibatkan oleh badai El Nino;

Kelima, bahan bakar yang dihambur – hamburkan, kemerosotan mutu nutrisi, dan meningginya pemakaian bahan – bahan pengawet bagi makanan yang dikirim melalui perjalanan jarak jauh;

Keenam, keanekaragaman hayati yang alami diganti dengan perkebunan monokultur. Perkebunan yang monokultur membabat pepohonan yang amat mahal harganya dan menghancurkan sisanya hingga tinggallah ‘padang ilalang’ dan ‘sampah’. Vandana Shiva (1993:24) berujar “Sampah inilah yang merupakan kekayaan biomassa, yang mengatur siklus makanan dan air di alam, serta mencukupi kebutuhan makanan, bahan bakar,makanan ternak,pupuk,serat, dan obat – obatan bagi komunitas – komunitas pertanian”;

Ketujuh, pengambilan ikan yang berlebihan (over-fishing): “persediaan ikan dunia menurun hingga tinggal seperempat atau hampir habis, dan 44 % lainnya diambil melampaui batas keletariannya” (UNDP,1998:4);

Kedelapan, punahnya habitat alam dan mata pencaharian manusia sebagai akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh pengerukan bahan bakar. Contohnya, kerusakan yang ditimbulkan oleh perusahaan Shell Oil di Delta Niger, tempat tinggal orang – orang Ogoni..

Kesembilan, pengerukan kekayaan alam yang sampai pada batas tak lestari tanpa mempertimbangkan kelanjutan (sustainable) dapat mengakibatkan utang ekologis yang lumayan besar dan membutuhkan waktu yang panjang untuk bisa kembali kepada keadaan seperti semula baik itu secar kuantitas atau pun kualitas. Seperti yang dikatakan oleh Joan Martinez Alier (1997), bahwa alam tak dapat tumbuh pada kecepatan 4 – 5 % setahun, SDA yang terbarukan memiliki ritme – ritme pertumbuhan biologis yang lebih lambat dibanding ritme – ritme pertumbuhan ekonomi yang membebani secara eksternal.

Krisis lingkungan saat ini hanya dapat diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam yang fundamental dan radikal yang dibutuhkan sebuah pola hidup atau gaya hidup baru yang tidak hanya menyangkut orang perorang, tetapi juga budaya masyarakat secar keseluruhan, artinya dibutuhkan etika lingkungan hidup yang menuntun manusia untuk berinteraksi dengan lingkungan.

Dalam Ar Rum : 44 dijelaskan bahwa kerusakan di darat laut dan udara disebabkan karena keserakahan manusia…. Pola hidup serta kebijakan yang masih antroposentris juga menjadi penyebab utama menurunnya daya dukung lingkungan di bumi ini

Seperti sebuah renungan di hari bumi ketika kerusakan di bumi ini khususnya di Indonesia semakin meluas dari permasalahan lingkungan menjadi permasalahan kesenjangan sosial dan politik, pertanyaan yang harus dijawab oleh diri kita, bagaimana dengan kita ? bagaimana dengan anak cucu kita, dengan generasi yang akan datang ? seperti kata terakhir Gerlofd Nelson yang disampaikan dalam Catalyst Conference Speech University of Illionis,1990. ‘jika ingin mengubah Negara untuk kegiatan – kegiatan yang sulit tentang kebijakan politik, pencinta lingkungan menjadi sumber kekuatan dengan anda, apa saja dapat dilakukan. Jika ingin Negara untuk kepentingan ekonomi, pikirkan diri anda dan generasi anda manusia yang akan datang, saya yakin anda dapat melakukannya’

    *) penulis adalah mahasiswa UPI relawan Greenlife Society (GLS) di Bandung.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori