Oleh: kris | 6 November 2007

NAMA DAN PERISTIWA

Kamis, 16 Juni 2005

“AYEUNA mah rakyat leutik geus dianggap siga runtah (sekarang rakyat kecil sudah dianggap seperti sampah-Red),” kata Darmawan Dayat Hardjakusumah atau lebih dikenal dengan sebutan Acil Bimbo (61) di Bandung, Rabu (15/6). Karena sudah dianggap sampah, rakyat kecil meninggal pun di atas tumpukan sampah, seperti yang terjadi pada bencana longsor di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Leuwigajah, Cimahi, 21 Februari 2005 lalu.

Jauh sebelum terjadi tragedi longsor sampah di Leuwigajah, Grup Bimbo sebenarnya pernah membuat album tentang sampah pada tahun 1983. Namun, album yang bertemakan lingkungan tersebut tidak pernah dirilis sampai sekarang. Selain lagu soal sampah, lagu lain yang ada dalam album tersebut adalah soal harimau jawa dan kepadatan penduduk.

Menurut Kang Acil, pembangunan seharusnya memerhatikan kearifan budaya lokal, bukan seperti sekarang mengeksploitasi alam dan menyingkirkan rakyat jelata. Untuk itu, apa pun alasannya, dia tidak setuju dengan diberlakukannya Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum.

“Sebab dengan adanya aturan itu, nanti setiap kegiatan pembangunan, termasuk yang dilakukan swasta, dalihnya bisa untuk kepentingan umum, namun dampaknya menyingkirkan kepentingan rakyat,” ujar Kang Acil, yang akhir-akhir ini aktif menggelorakan kegiatan Forum RT/RW di Kota Bandung. Menjelang ulang tahun ke-60 Republik Indonesia, Acil merasakan adanya kemunduran dalam kehidupan masyarakat.

Dia menunjuk contoh keringnya sumber mata air di tiga desa di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, setelah masuknya perusahaan pengolah air minum dalam kemasan ke daerah tersebut. “Keringnya sumber mata air itu dikarenakan bukan hanya mata air yang diambil oleh perusahaan itu, tetapi juga air tanah,” ujar Kang Acil menambahkan. (GUN)


Beri tanggapan

Your response:

Kategori