Oleh: kris | 19 Juni 2007

Sahabatku Laura

Tak jarang, kita yang merasa dewasa ini belajar dari ungkapan lepas seorang bocah. Simak tulisan Tirta Amartya (Siswi yang saat menulis ini masih duduk di bangku sekolah dasar Kelas IB, SDK. St. Theresia I Surabaya). Begitu polos…..dinamis dalam suasana hatinya.

Saat aku pulang sekolah, aku bertemu dengan sahabatku. Dia sangat baik sekali, benar-benar seorang sahabat, jika aku bersedih dia selalu menghiburku.

Suatu hari ketika di dalam kelas, salah satu temanku ada yang kehilangan pensil dan aku membantunya mencari, namun bel pulang sekolah telah tiba, aku dan teman-teman buru-buru pulang bersama. Pensil itu tidak juga ditemukan sampai sekarang.

Keesokan harinya  hari sekolah telah tiba. waktu istirahat aku dan teman-teman bermain pada saat bel masuk semua langsung berbaris dengan rapi, kemudian masuk ke kelas.

Teman-temanku suka bertengkar atau siwak-siwa’an, h.d.t. nah waktu aku duduk dengan temanku yang bernama Veni aku diminta pindah dengan temanku bernama Laura. Kata “Pak Supirku” kalau ada yang nama awal katanya “La” itu berati :marah sama seperti Laura nama depannya kan ada “La”-nya jadi Laura itu memang nakal.

Laura itu anaknya  siwa’an terus nyontekan pokoknya anaknya :marah. Kalau ada ulangan dan Laura tidak aku conteki mesti langsung nggondok. Tapi aku tahu bahwa Laura nanti akan menjadi anak yang :katrok karena dia tak mau belajar sendiri.

Waktu aku masuk sekolah pertama kali aku lihat teman-temanku banyak sekali dan Ibu Guruku juga baik.

Selesai.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori