<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Menakar potensi sampah pasar</title>
	<atom:link href="http://tirtaamartya.wordpress.com/2007/06/19/sampah-pasar-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tirtaamartya.wordpress.com/2007/06/19/sampah-pasar-2/</link>
	<description>&#34;....It&#039;s hard being ordinary people, too much temptation....!&#34;</description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 Nov 2009 18:35:06 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: John Kennedy</title>
		<link>http://tirtaamartya.wordpress.com/2007/06/19/sampah-pasar-2/#comment-376</link>
		<dc:creator>John Kennedy</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 03:05:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tirtaamartya.wordpress.com/2007/06/19/sampah-pasar-2/#comment-376</guid>
		<description>Kita menghadapi masalah lingkungan yang makin lama makin pelik. Jika kita melihat sampah atau limbah dalam arti yang luas, maka banyak sekali hal-hal yang dapat kita kerjakan. Kita juga harus melihat sampah dari penghasilnya, yaitu sampah yang dihasilkan oleh alam dan sampah yang dihasilkan oleh manusia, kemudian kita akan mengkategorikan kembali sampah itu kedalam sifatnya yaitu berbahaya atau tidak berbahaya. Demikian pula, bahwa sampah yang dihasilkan oleh alam ada yang bersifat aman dan berbahaya bagi manusia, misalkan sampah yang dibawa oleh kejadian alam seperti gunung meletus, longsor dan banjir bandang beberapa diantaranya mengandung unsur-unsur yang berbahaya dan ada pula yang tidak. Jika kita melihat penghasilnya dari manusia, tentunya memiliki sifat yang sama yaitu berbahaya dan tidak berbahaya.

Jadi kesimpulannya adalah, pengertian berbahaya dan tidak berbahaya serta siapa pembawa atau penghasil sampah itu akan menentukan bagaimana cara menanganinya. Jika setiap orang menghasilkan sampah 1 kg sehari maka apabila kita memiliki kesadaran bahwa sampah itu harus dikelola dengan baik sehingga tidak mengancam kehidupannya mungkin semua orang dapat melakukannya dengan mudah, seperti melakukan pemilahan sampah organic dan unorganic akan membantu pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan sampah dengan berbagai cara yang yang ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomis. 

Saya setuju dengan pernyataan Mas Agie dan Rizka, generasi kedepan adalah generasi yang paham dan sadar akan lingkungan. Bukan peduli lingkungan karena kata &quot;peduli&quot; itu lemah dan tidak memiliki kekuatan untuk mendorong, kata yang tepat adalah awareness and understand-paham dan sadar.  Oleh karenanya, setiap tingkatan pendidikan ketika mereka akan menaiki jenjang pendidikan yang lebih tinggi (misalkan dari TK ke SD,  kelas VI SD,  kelas III SMP, dan kelas III SLTA) harus memiliki kurikulum tentang lingkungan walaupun itu hanya 1 jam saja. ini penting untuk menghasilkan generasi sadar dan paham lingkungan menuju era bisnis berbasis lingkungan. Masalahnya, bagaimana melakukannya? mudah-mudahan buku saya yang berjudul era bisnis berbasis lingkungan, Insya Allah akan diterbitkan pada akhir tahun ini dan dapat mewarnai pemikiran tentang lingkungan di Indonesia. Terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kita menghadapi masalah lingkungan yang makin lama makin pelik. Jika kita melihat sampah atau limbah dalam arti yang luas, maka banyak sekali hal-hal yang dapat kita kerjakan. Kita juga harus melihat sampah dari penghasilnya, yaitu sampah yang dihasilkan oleh alam dan sampah yang dihasilkan oleh manusia, kemudian kita akan mengkategorikan kembali sampah itu kedalam sifatnya yaitu berbahaya atau tidak berbahaya. Demikian pula, bahwa sampah yang dihasilkan oleh alam ada yang bersifat aman dan berbahaya bagi manusia, misalkan sampah yang dibawa oleh kejadian alam seperti gunung meletus, longsor dan banjir bandang beberapa diantaranya mengandung unsur-unsur yang berbahaya dan ada pula yang tidak. Jika kita melihat penghasilnya dari manusia, tentunya memiliki sifat yang sama yaitu berbahaya dan tidak berbahaya.</p>
<p>Jadi kesimpulannya adalah, pengertian berbahaya dan tidak berbahaya serta siapa pembawa atau penghasil sampah itu akan menentukan bagaimana cara menanganinya. Jika setiap orang menghasilkan sampah 1 kg sehari maka apabila kita memiliki kesadaran bahwa sampah itu harus dikelola dengan baik sehingga tidak mengancam kehidupannya mungkin semua orang dapat melakukannya dengan mudah, seperti melakukan pemilahan sampah organic dan unorganic akan membantu pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan sampah dengan berbagai cara yang yang ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomis. </p>
<p>Saya setuju dengan pernyataan Mas Agie dan Rizka, generasi kedepan adalah generasi yang paham dan sadar akan lingkungan. Bukan peduli lingkungan karena kata &#8220;peduli&#8221; itu lemah dan tidak memiliki kekuatan untuk mendorong, kata yang tepat adalah awareness and understand-paham dan sadar.  Oleh karenanya, setiap tingkatan pendidikan ketika mereka akan menaiki jenjang pendidikan yang lebih tinggi (misalkan dari TK ke SD,  kelas VI SD,  kelas III SMP, dan kelas III SLTA) harus memiliki kurikulum tentang lingkungan walaupun itu hanya 1 jam saja. ini penting untuk menghasilkan generasi sadar dan paham lingkungan menuju era bisnis berbasis lingkungan. Masalahnya, bagaimana melakukannya? mudah-mudahan buku saya yang berjudul era bisnis berbasis lingkungan, Insya Allah akan diterbitkan pada akhir tahun ini dan dapat mewarnai pemikiran tentang lingkungan di Indonesia. Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Agie</title>
		<link>http://tirtaamartya.wordpress.com/2007/06/19/sampah-pasar-2/#comment-195</link>
		<dc:creator>Agie</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Jan 2008 14:53:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tirtaamartya.wordpress.com/2007/06/19/sampah-pasar-2/#comment-195</guid>
		<description>Mas,
Mungkin bisa bantu saya yang sedang merancang kegiatan intervensi terintegrasi melalui masyarakat di bidang pendidikan anak? saya membutuhkan banyak reference utk bahan pre-test dan baselne study..terima kasih loh sebelumnya =)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas,<br />
Mungkin bisa bantu saya yang sedang merancang kegiatan intervensi terintegrasi melalui masyarakat di bidang pendidikan anak? saya membutuhkan banyak reference utk bahan pre-test dan baselne study..terima kasih loh sebelumnya =)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: rizkativa</title>
		<link>http://tirtaamartya.wordpress.com/2007/06/19/sampah-pasar-2/#comment-62</link>
		<dc:creator>rizkativa</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Aug 2007 01:52:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tirtaamartya.wordpress.com/2007/06/19/sampah-pasar-2/#comment-62</guid>
		<description>To Mas Christ,

Idealisme memang semua tulisan diatas, tapi apakah upaya yang kita semua sedang lakukan dan idam-idamkan untuk menciptakan lingkungan bebas sampah dapat terlaksana dengan mudah.

Saya berkilas balik, sejak tsunami di daerah saya (kota Banda Aceh) banyak sekali bantuan dan concern pihak luar untuk membantu penanganan sampah di kota Banda Aceh, termasuk dengan mengupayakan landfill baru, karena landfill lama umurnya tidak lebih dari 10 tahun lagi.

Namun mas, kegigihan dan upaya pihak luar dan beberapa gelintir orang di kota saya untuk menciptakan kondisi bersih tersebut tidak  semunanya dapat terlaksana dengan mudah. &quot;Kesadaran&quot; untuk kearah sana yang belum dimiliki oleh kalangan masyarakat kita merupakan hambatan terbesar untuk keberhasilan proses tersebut.

&quot;Kesadaran&quot; ini tercium dari beberapa kawasan atau tepatnya kelurahan di Jakarta/Jawa, yang seyogyanya kita tularkan ke masyarakat sini. Sekali lagi promotor atau prakarsa orang-orang tertentu saja yang membuat hal ini berjalan.

Namun sekali lagi berapa banyak orang yang punya talenta dan keinginan untuk melakuakn hal tersebut?

Kenapa tidak menciptakan sutau komuniti yang pada akhirnya akan membantu terkelolanya lingkungan secara keseluruhan yang dimulai dari masing-masing kota?

Demikian unek-unek saya, thanks</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>To Mas Christ,</p>
<p>Idealisme memang semua tulisan diatas, tapi apakah upaya yang kita semua sedang lakukan dan idam-idamkan untuk menciptakan lingkungan bebas sampah dapat terlaksana dengan mudah.</p>
<p>Saya berkilas balik, sejak tsunami di daerah saya (kota Banda Aceh) banyak sekali bantuan dan concern pihak luar untuk membantu penanganan sampah di kota Banda Aceh, termasuk dengan mengupayakan landfill baru, karena landfill lama umurnya tidak lebih dari 10 tahun lagi.</p>
<p>Namun mas, kegigihan dan upaya pihak luar dan beberapa gelintir orang di kota saya untuk menciptakan kondisi bersih tersebut tidak  semunanya dapat terlaksana dengan mudah. &#8220;Kesadaran&#8221; untuk kearah sana yang belum dimiliki oleh kalangan masyarakat kita merupakan hambatan terbesar untuk keberhasilan proses tersebut.</p>
<p>&#8220;Kesadaran&#8221; ini tercium dari beberapa kawasan atau tepatnya kelurahan di Jakarta/Jawa, yang seyogyanya kita tularkan ke masyarakat sini. Sekali lagi promotor atau prakarsa orang-orang tertentu saja yang membuat hal ini berjalan.</p>
<p>Namun sekali lagi berapa banyak orang yang punya talenta dan keinginan untuk melakuakn hal tersebut?</p>
<p>Kenapa tidak menciptakan sutau komuniti yang pada akhirnya akan membantu terkelolanya lingkungan secara keseluruhan yang dimulai dari masing-masing kota?</p>
<p>Demikian unek-unek saya, thanks</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
