Menakar potensi sampah pasar

Oleh: Christianto

_____________________________________________
Tulisan ini dipersembahkan untuk:
1. Menyapa rekan-rekan di Pusdakota Ubaya yang dengan segala dedikasinya terlibat dalam penelitian sampah Pasar Keputran Kota Surabaya, khususnya saat penelitian sampah pasar tahap kedua di Tenggilis Utara, ketika harus tidur bukan di dalam Ruang Terbuka Hijau namun dalam “Ruang Terbuka Sampah”, ketika harus mengamati suhu sampah setiap 1 jam sekali selama 3 hari penuh, ketika harus mengatasi rasa takut saat memandang ke depan TPS yang notabene kuburan –terutama Dik Arif-, ketika rekan-rekan harus menghadapi ramainya penonton dengan segala komentarnya sementara anda menjadi pemain…..sendiri… sunyi….

2. Menjawab pertanyaan Bapak dan Ibu Djamaludin, Mantan Menteri Kehutanan RI yang saat ini menjadi Pegiat dalam isu pengelolaan lingkungan, Penggagas sekaligus Pengelola Kebun Karinda Jakarta bersama dengan “Si Doel Anak Sekolahan” Rano Karno;
Salam hangat dari saya di Ngawi…..
___________________________________________

Ada pandangan sangat menarik dari para ekolog yang menyatakan bahwa semua organisme dalam tata kehidupan ekosistem pasti akan menghasilkan sampah. Bagi mereka para pegiat lingkungan pasti membenarkan atau tak heran dengan pernyataan tersebut, namun bagaimana dengan yang awam? Berikut penjelasannya, Setiap jasad yang hidup di alam bergerak dinamis melakukan segala bentuk aktivitas untuk kebutuhan hidupnya. Dari mahkluk hidup kecil yang tak terlihat secara kasat mata sampai mahkluk hidup yang sebesar Dinosaurus –jika masih ada-, semua beraktivitas. Konsekwensi dari kegiatan yang dilakukan oleh mahkluk hidup ketika beraktivitas adalah bahwa setiap aktivitas akan menghasilkan sampah dengan ragam bentuk, warna, ataupun baunya. Karena setiap mahkluk hidup menghasilkan sampah, maka Sang Khalik pun berlaku adil dan bijak dengan memberikan pakem tentang bagaimana isi alam ini bekerja dalam situasi kesalingtergantungan, semua tidak berdiri secara tunggal namun berada dalam satu relasi kait mengkait, membentuk siklus yang tertutup. Ambil contoh dari uraian para ekolog yang menyatakan bahwa setiap organisme menghasilkan sampah. Sebagai output, sampah yang dihasilkan oleh satu mahkluk hidup tertentu kemudian akan beralih peran menjadi input bagi organisme lainnya, kita ada dalam siklus yang tertutup. Untuk hidup salah satunya kita membutuhkan makanan, kita makan menghasilkan sampah berupa sisa makanan yang kemudian diurai oleh mikroorganisme menjadi kompos, dan kemudian kompos yang dihasilkan menjadi sumber makanan yang diasup oleh tanaman yang kemudian kita makan dan demikian seterusnya alam saling bekerja sama dan saling bergantung. Input – Black Box (proses) –Output – input – black Box dan demikian seterusnya menghasilkan keseimbangan dan membuat kehidupan ini terus terpelihara dan berkelanjutan.

Jika kehidupan ini ada dalam situasi kesaling tergantungan, mengapa masalah sampah tak kunjung selesai? Mengapa sampah di TPA tetap saja menumpuk sampai bergunung-gunung di TPA? Nah, pertanyaan ini mengajak kita untuk mengambil kesimpulan sementara bahwa ada sesuatu yang salah dengan semesta atau mungkin malah ada sesuatu yang salah dengan pakem yang sudah digariskan oleh Sang Khalik. Situasi kesalingtergantungan diantara mahkluk hidup sudah tak ada lagi, hilang tertimbun dalam gunungan sampah, terdesak semakin dalam dan semakin dalam. Benarkah demikian? Saya menjawab tegas, TIDAK!!, Suasana kesaling tergantungan yang telah dirumuskan oleh Sang Khalik masih tetap ada, namun manusia melupakan dan menyalahi pakem yang telah digariskan oleh Sang Khalik. Banyaknya timbulan sampah yang umumnya terjadi di perkotaan selalu identik dengan permasalahan percepatan laju urbanisasi, perkembangan teknologi dan ekonomi. Namun menurut saya, tumpukan berton-ton sampah di perkotaan bukan semata-mata atau bukan mutlak akibat dari percepatan laju urbanisasi, teknologi ataupun ekonomi. Harus ada sesuatu yang lebih mendasar dari itu yaitu sifat dasar manusia yang memiliki kecenderungan untuk lebih memilih menguasai daripada duduk sejajar, lebih memilih mengambil daripada memberi, dan lebih memilih untuk mengeksploitasi daripada merawat. Dampaknya adalah rusaknya keseimbangan relasi antar organisme. Beban yang begitu berat dipikul oleh alam akibat akumulasi keinginan, kerakusan dan kekuasaan dari manusia. Kondisi saat ini tidak memberikan cukup jeda waktu bagi seluruh organisme di alam ini untuk berinterelasi dan bekerjasama dalam mencapai titik keseimbangan. Lantas bagaimana sebaiknya menciptakan keseimbangan kembali antar organisme yang ada dialam ini? Jawabnya sangat sederhana yaitu mari kita memahami organisme yang ada di sekitar kita untuk kemudian bekerjasama menciptakan keseimbangan sebagai jaminan keberlanjutan kehidupan manusia di masa depan. Namun sebelumnya kita mengidentifikasi terlebih dahulu jumlah timbulan sampah apa yang dominan dan membuat kondisi tidak berada dalam keseimbangan. Selanjutnya adalah mana saja sumber penghasil timbulan sampah terbesar di wilayah perkotaan sebagai bahan untuk melakukan proses pengelolaan yang efektif dan efisien.

Melacak Jejak

Secara umum, jumlah timbulan sampah perkotaan di Indonesia didominasi oleh jenis sampah organik. Sementara sumber kegiatan yang paling banyak menghasilkan sampah adalah segala bentuk kegiatan yang dilakukan di tingkat rumah tangga kemudian diikuti oleh pasar. Ambil contoh Kota Surabaya, dari hasil sebuah penelitian yang dilakukan oleh JICA Jepang bekerjasama dengan Pemerintah Kota Surabaya pada sekitar tahun 1993, timbulan sampah dari kota yang dijuluki city of heroes paling banyak bersumber dari kegiatan rumah tangga dan pasar. Kondisi ini belum berubah, masih tetap bertahan jika dibandingkan dengan jumlah timbulan sampah Kota Surabaya pada tahun 2005 yang masih tetap didominasi oleh sampah dari rumah tangga dan pasar. Gambar dibawah merupakan ilustrasi tentang bagaimana sampah dihasilkan sejak dari sumbernya sampai kemudian diolah di TPA di Kota Surabaya :

Timbulan sampah yang dihasilkan oleh sekitar 3 juta jiwa penduduk Kota Surabaya sebesar 79,19 persen sementara timbulan sampah dari sampah pasar menghasilkan 8,52 persen. Tak jauh berbeda dengan Kota Surabaya, data dari Dinas Kebersihan DKI Jakarta pada tahun 2005 juga mencatat bahwa timbulan sampah di kota jakarta didominasi oleh sampah rumah tangga (57 %) dan sampah pasar (30 %).

Pola Pengelolaan

Tentunya cukup mudah mendapatkan data tentang pola pengelolaan sampah Kota Surabaya yang bersumber dari rumah tangga. Bagaimana sampah di masing-masing rumah tangga harus dipilah berdasarkan dengan jenisnya kemudian diolah di sebuah zona modulasi melalui kegiatan pengomposan atau kegiatan daur ulang lainnya.

Tulisan ini akan mengangkat pola pengelolaan sampah pasar sebagai sumber penghasil sampah terbesar kedua. Sebagai studi kasus saya akan menceritakan tentang penggalan pengalaman ketika terlibat dalam proses pembuatan model pengelolaan sampah pasar di Kota Surabaya bersama Pusdakota Ubaya, KITA Jepang dan Pemerintah Kota Surabaya.

Sampai tahun 2005, seluruh penanganan sampah pasar di Kota Surabaya dilakukan oleh PD Pasar Surya. PD Pasar Surya merupakan sentra dari seluruh pengelolaan pasar di Kota Surabaya. Dinas Kebersihan hanya berperan dalam proses pengangkutan di TPS yang umumnya tersedia di setiap pasar di seluruh kota surabaya sampai ke TPA.

Dalam menangani permasalahan sampah pasar, aktivitas yang dilakukan oleh PD Pasar Surya masih berpola kumpul-angkut-buang/bakar. Hal yang dikeluhkan oleh pihak Manajemen PD Pasar masih sebatas permasalahan yang klasik antara lain:
1. Cost center, Penanganan sampah oleh PD Pasar Surya selama ini dipandang sebagai kegiatan yang defisit, menjadi beban pembiayaan yang tidak sedikit –cost center-. Dari laporan keuangan yang dilaporkan PD Pasar Surya pada tahun 2005, pihak PD Pasar defisit sebesar Rp. 731.144.300,-. Total pendapatan iuran kebersihan adalah Rp. 1.824.124.000 ,- sementara beban biaya yang dikeluarkan melebihi angka pemasukan yaitu sebesar Rp. 2.555.568.300,-. Biaya tersebut digunakan untuk membiayai penggunaan LPA yang memang sudah diatur dalam Perda, pengangkutan dari TPS ke Benowo, tenaga Kerja, dan pembelian peralatan kerja.
2. Rendahnya tingkat partisipasi budaya bersih di kalangan pedagang dan pengunjung.
3. Laju peningkatan volume sampah tidak berbanding lurus dengan kapasitas ruang yang masih tetap.
4. Peningkatan beban opeasional yang tidak sulit disesuaikan dengan tarif iuran sampah.
5. Penempatan TPS Dinas Kebersihan yang relatif jauh dari unit pasar yang berpengaruh dalam kecepatan penanganan sampah.

Dari beberapa alasan yang dikeluhkan oleh pihak PD Pasar Surya dalam menangani sampah memberikan kesan bahwa permasalahan sampah belum merupakan prioritas bagi mereka. Pihak Manajemen belum mampu berandai-andai tentang nilai tambah apa yang dapat dihasilkan jika melakukan investasi dalam kegiatan-kegiatan pengelolaan sampah melalui penerapanan prinsip 3R. Dalam diskusi yang pernah saya hadiri bersama dengan KLH pada tahun 2006 lalu tentang penanganan permasalahan sampah pasar semakin mempertegas kondisi bahwa penanganan sampah pasar –yang mayoritas adalah pasar tradisional- memang dibiarkan kumuh. Alih-alih kesan kumuh tersbut kemudian tiba-tiba timbul kebakaran yang terjadi entah karena kesengajaan atau memang karena musibah. Tak lama kemudian datang yang membangun plaza atau hyper market di bekas bangunan pasar. Jika sudah seperti ini, tidak ada lagi kawasan pasar tradisional yang dulunya memiliki nilai historisitas bagi kalangan tertentu dan kemudian dikemas sehingga pantas alternatif kawasan wisata.

Meniti Jalan Sunyi

Ceritera kemudian berlanjut dengan pertanyaan bagaimana mengatasi permasalahan sampah pasar? Berawal dari tiga stakeholder (Pusdakota Ubaya, KITA Jepang dan Dinas Kebersihan Kota Surabaya) yang akan melakukan pembuatan model dalam pengelolaan sampah pasar di Kota Surabaya. Tahap yang dilakukan saat awal adalah melakukan analisis transek di sejumlah pasar di Kota Surabaya. Hasil dari kegiatan analisa transek menunjukkan bahwa sampah pasar pada umumnya didominasi oleh sampah organik. Karakteristik sampah organik di sampah pasar yang dikunjungi paling banyak didominasi oleh sayur-mayur dan buah-buahan. Dari hasil kesepakatan dengan Dinas Kebersihan Kota Surabaya yang saat itu dijabat oleh Bapak Ismanu -kini menjabat sebagai Kepala Dinas Koperasi Kota Surabaya-, lokasi dipilih di Pasar Keputran yang merupakan pasar sayur terbesar di Kota Surabaya. Pemilihan lokasi di Pasar Keputran dilakukan dengan pertimbangan bahwa Pasar Keputran memiliki nilai historisitas tersendiri dalam perkembangan Kota Surabaya, selain itu Pasar Keputran merupakan Pasar terbesar di Kota Surabaya dimana penduduk dari Kota Surabaya dan luar daerah bertemu dan berinteraksi. Diharapkan ketika nanti dibangun sebuah model pengelolaan sampah di Pasar Keputran dan pengelolaan tersebut berjalan dengan baik maka akan memudahkan proses diseminasi mengenai pentingnya mengelola sampah kepada masyarakat yang lebih luas.

Dari kegiatan transek dan pemilihan lokasi kegiatan kemudian dilanjutkan dengan melakukan penelitian tentang bagaimana cara pengomposan sampah organik yang paling optimal. Yang dimaksud dengan paling optimal adalah bagaimana proses pengomposan yang dilakukan dapat menghasilkan tingkat efisiensibaik dari sisi waktu dan uang. Untuk menjawab pertanyaan ini dilakukan beberapa percobaan dengan indikator-indikator yaitu waktu, suhu, kelembaban, warna dan bau. Kegiatan yang pertama adalah dengan melakukan percobaan pengomposan di beberapa keranjang berpori untuk menemukan hasil yang paling optimal penggunaan campuran native microorganism (mikroorganisme alami) dan sampah dalam proses dekomposisi. Masing-masing keranjang mengalami perlakuan yang sama, perbedaan hanya dilakukan pada pencampuran antara jumlah sampah dan Native Microorganism (NM). Pencampuran antara mikroorganisme alami dan sampah organik dilakukan dengan perbandingan 1:1 ternyata menghasilkan proses dekomposisi yang optimal. Kegiatan ini dilakukan di Graha Kompos Pusdakota Ubaya di Jl. Rungkut Lor III/87, Surabaya. Penelitian kemudian dilanjutkan dengan mengomposkan sampah organik di Pasar Keputran sebanyak 6 M3. Karena pertimbangan lokasi di Pusdakota ubaya yang tidak mencukupi untuk menampung jumlah sampah pasar Keputran yang diolah, sementara lokasi penelitian dialihkan di TPS di wilayah Tenggilis Utara.


Suasana kegiatan percobaanawal pengomposan sampah Pasar Keputran di Pusdakota Ubaya

Tentang TPS Tenggilis Utara, awalnya TPS hanya berupa landasan yang memuat dua kontainer sampah Dinas Kebersihan. Tak jauh dari tempat tersebut, ada satu bangunan kecil pengomposan milik RW Tenggilis Utara yang dikelola oleh Ibu Widya Wilopo. Kemudian Pusdakota Ubaya, KITA Japan dan Dinas Kebersihan bersepakat untuk membangun satu tempat pengomposan yang agak luas tepat di tengah diantara bangunan kompos milik RW Tenggilis Utara dan Landasan yang dibangun Dinas Kebersihan. Bangunan yang lebih besar ini awalnya untuk mengelola sampah organik dari warga RW Tenggilis Utara. Namun sayang, bangunan pengomposan yang awalnya didesain untuk pengomposan sampah organik warga di wilayah Tenggilis Utara tidak berjalan dengan baik, saya mengamini bahwa proses pengorganisasian di wilayah tersebut gagal dengan investasi yang menurut saya tidak sedikit. Hal ini karena local leader kurang mampu membentuk task force yang secara konsisten membentuk karakter warga di wilayah tersebut untuk melakukan proses pemilahan dan pengomposan sejak dari sumbernya.

Suasana lokasi yang belum optimal kemudian dijadikan alternatif lokasi kegiatan percobaan tahap ke dua di TPS Tenggilis Utara

Melihat bangunan yang belum difungsikan secara optimal, tim Peneliti menggunakannya sebagai lokasi percobaan pengomposan sampah organik pasar keputran tahap kedua. Dalam percobaan tahap kedua ini Tim Peneliti ingin mengetahui perbedaan proses diantara pencacahan dan pencampuran mikroorganisme alami. Tim Peneliti ingin mengetahui mana yang lebih optimal. Berikut merupakan alur dari kegiatan penelitian tahap kedua pengomposan sampah organik dari sampah Keputran yang dilakukan di lokasi TPS Tenggilis Utara:

Hasil yang diperoleh dari percobaan ini adalah bahwa pencampuran sampah dan NM kemudian dilanjutkan dengan proses pencacahan merupakan hasil yang lebih optimal. Pada percobaan B, materi sampah terlapisi dengan NM secara lebih merata dan ukurannya lebih kecil, kondisi demikian menghasilkan aerasi yang lebih baik yang sangat dibutuhkan dalam proses dekomposisi. Berbeda dengan percobaan A yang materinya terlihat lembek dan bergumpal-gumpal, kandungan airnya sangat tinggi sehingga mengganggu aerasi dalam proses dekomposisi.

Sambil proses penelitian berlangsung, Tim Peneliti juga bertanggung jawab dalam proses konstruksi model pengelolaan sampah di wilayah Pasar Keputran. Tim Peneliti mencoba untuk rasional ketika menghitung beban pekerjaan ketika sampah tidak dikelola sejak dari sumber. Pembuatan model pengomposan sampah di Pasar Keputran dilakukan dengan tujuan untuk menghemat pengeluaran biaya transportasi dan menjadi media pendidikan lingkungan bagi lingkungan sekitar pasar yang merupakan pusat perjumpaan paling ramai dari warga baik dari dalam maupun luar Kota Surabaya. Dengan pembuatan model pengelolaan sampah di Pasar Keputran diharapkan ada interaksi antara pengelola sampah dengan komunitas pasar mengenai pentingnya mengelola sampah, sekaligus juga membuktikan bahwa sampah jika dikelola dengan benar tidak berbau.

Dalam kegiatan pengelolaan sampah pasar, Pusdakota saat itu terlibat penuh dan bertanggungjawab dalam proses penelitian, konstruksi bangunan di Pasar Keputran, pelatihan bagi pengelola sampah dari Dinas Kebersihan yang akan ditempatkan di lokasi pengelolaan kompos sampah pasar keputran, konsultasi dan advokasi. KITA Japan terlibat dan bertanggungjawab dalam pendanaan proses penelitian dan konsultasi teknologi. Dinas Kebersihan bertanggungjawab untuk mendanai pembangunan lokasi yang akan dijadikan tempat untuk mengelola sampah pasar keputran dan penyediaan sumber daya manusia yang nantinya akan menjadi pengelola. Sayangnya, peran PD Pasar Surya yang tidak begitu terlihat dalam seluruh proses pengelolaan, jika ada itupun dengan keterpaksanaan.

Suasana implementasi hasil penelitian pengomposan sampah organik di Pasar Keputran, Bpk. Tetsuya Ishida (Direktur Kerjasama Internasional KITA Jepang) ikut terlibat memindahkan materi kompos.

Perkembangan Selanjutnya

Beberapa waktu proses pengelolaan berjalan kemudian Pusdakota Ubaya mencoba berjarak dan menyerahkan model pengelolaan sampah pasar keputran kepada pihak Dinas Kebersihan. Saat itu proses pengomposan hanya dibatasi untuk mengolah 2,5 m3 sampah organik yang dihasilkan dari aktivitas pasar. Tumpukan sampah pasar yang mayoritas adalah sampah organik tak sulit untuk dipilah oleh para petugas. Sampah yang segar kemudian dicampur dengan NM kemudian dicacah dan dikomposkan. Setiap hari para pengelola melakukan pengadukan dan pergiliran tumpukan sehingga dari proses ini para Pengelola memanen kompos setiap hari dari tumpukan terakhir. Lama proses pengomposan yang dilakukan di Pasar Keputran yaitu 7 (tujuh) hari.

Dialog dan diskusi informal terkait pengembangan kegiatan pengomposan sampah di Pasar Keputran tentunya dilakukan oleh Pusdakota Ubaya, KITA jepang dan Dinas Kebersihan Kota Surabaya, namun tidak seintens pada saat awal rintisan pembuatan model. Kepemimpinan Bapak Ismanu sebagai Kepala Dinas Kebersihan digantikan dengan Ibu Tri Rismaharani (Ibu Risma). Ibu Risma sebagai pimpinan baru kemudian menggagas untuk lebih mengoptimalkan lagi TPS-TPS yang ada (sekitar 7 lokasi salah satunya di Tenggilis Utara) untuk menampung dan mengelola sampah pasar keputran dengan cara yang sama. Tentunya Ibu Risma juga bekerja sama dengan partner lokal di masing-masing TPS untuk mengelola sampah pasar salah satunya di wilayah Tenggilis Utara.

Model pengelolaan ini memang harus diupayakan dan dikembangkan oleh berbagai pihak, selain memberikan jaminan terhadap keberlanjutan lingkungan juga melindungi pasar tradisional sebagai situ yang memiliki nilai historisitas pasar tradisional serta menekan anggapan bahwa pengelolaan kebersihan suatu wilayah selalu identik dengan cost center dan kumuh.

2 Komentar »

  1. rizkativa berkata

    To Mas Christ,

    Idealisme memang semua tulisan diatas, tapi apakah upaya yang kita semua sedang lakukan dan idam-idamkan untuk menciptakan lingkungan bebas sampah dapat terlaksana dengan mudah.

    Saya berkilas balik, sejak tsunami di daerah saya (kota Banda Aceh) banyak sekali bantuan dan concern pihak luar untuk membantu penanganan sampah di kota Banda Aceh, termasuk dengan mengupayakan landfill baru, karena landfill lama umurnya tidak lebih dari 10 tahun lagi.

    Namun mas, kegigihan dan upaya pihak luar dan beberapa gelintir orang di kota saya untuk menciptakan kondisi bersih tersebut tidak semunanya dapat terlaksana dengan mudah. “Kesadaran” untuk kearah sana yang belum dimiliki oleh kalangan masyarakat kita merupakan hambatan terbesar untuk keberhasilan proses tersebut.

    “Kesadaran” ini tercium dari beberapa kawasan atau tepatnya kelurahan di Jakarta/Jawa, yang seyogyanya kita tularkan ke masyarakat sini. Sekali lagi promotor atau prakarsa orang-orang tertentu saja yang membuat hal ini berjalan.

    Namun sekali lagi berapa banyak orang yang punya talenta dan keinginan untuk melakuakn hal tersebut?

    Kenapa tidak menciptakan sutau komuniti yang pada akhirnya akan membantu terkelolanya lingkungan secara keseluruhan yang dimulai dari masing-masing kota?

    Demikian unek-unek saya, thanks

  2. Agie berkata

    Mas,
    Mungkin bisa bantu saya yang sedang merancang kegiatan intervensi terintegrasi melalui masyarakat di bidang pendidikan anak? saya membutuhkan banyak reference utk bahan pre-test dan baselne study..terima kasih loh sebelumnya =)

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar