Piramida pengelolaan sampah terpadu

Diolah dari berbagai sumber oleh: Christianto
Berbincang tentang permasalahan sampah, ada satu hirarki sebentuk piramida yang dapat membantu kita dalam upaya menyelesaikan persoalan sampah. Hirarki pengelolaan sampah tersebut bertujuan untuk mendorong produk kebijakan, teknologi dan karakter masyarakat yang dapat meminimumkan jumlah timbulan sampah dengan cara-cara yang ramah lingkungan –seminimal mungkin menghasilkan dampak terhadap lingkungan-.

Hirarki pengelolaan sampah merupakan kondisi ideal berisi alternatif upaya. Hirarki yang letaknya di paling atas merupakan upaya yang menjadi target utama. Hirarki paling atas mendorong kita untuk sedapat mungkin mencegah timbulan sampah. Ini merupakan upaya yang sifatnya sangat radikal, dilakukan dengan cara menghentikan budaya konsumtif. Mengharuskan kita untuk berhemat sebanyak mungkin terhadap setiap kegiatan yang dapat menimbulkan sampah. Pertanyaannya, apakah itu mungkin dilakukan ditengah derasnya iklan dan pemasaran yang merangsang hati diri kita untuk sebuah produk. Namun, mau tak mau kita dituntut untuk mengarah kesana. Banyak keuntungan dari upaya ini, bukan saja menekan jumlah timbulan sampah sedemikian drastis tetapi juga mampu menyelamatkan energi yang dibutuhkan dalam proses produksi barang yang kita butuhkan, menyelamatkan rusaknya sumber daya alam yang menjadi bahan baku dalam proses produksi, meminimalkan timbulan polusi udara dan ngirit, dompet kita tetap tebal :nyengir2. Kalau mau melihat lebih jauh ke depan lagi, kita dapat menjaga dan menjamin agar lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Pilihan kedua yaitu bagaimana meminimumkan jumlah timbulan sampah dengan cara melakukan perawatan secara rutin atas produk/barang yang kita miliki sehingga dapat memperpanjang umur dari sebuah produk. Dengan melakukan perawatan maka kualitas produk atau barang kita menjadi semakin lama sehingga kita didorong untuk tidak membeli barang atau produk baru dikarenakan karena keteledoran kita.

Pilihan ketiga yaitu melakukan reuse, menjadi pemulung budiman, :aha) yaitu dengan cara memakai ulang barang yang masih bisa pakai, misalnya menyumbangkan barang bekas yang masih bisa dipakai kepada mereka yang lebih membutuhkan atau mengambil barang yang tidak pernah digunakan oleh orang lain -nah kalau yang ini :dada, karena hal ini bukan mulung tapi maling, biarlah saya saja yang melakukan:H-. Pilihan keempat yaitu melakukan daur ulang, Bagaimana membuat barang yang sudah tidak terpakai lagi menjadi produk baru yang dapat digunakan kembali untuk menunjang kebutuhan hidup manusia. Contohnya adalah dengan melakukan pengomposan sampah organik, daur ulang plastik bekas, daur ulang kertas bekas dan lainnya. Pilihan kelima yaitu denga mengubah timbulan sampah yang ada menjadi sumber energi terbarui, contohnya adalah dengan mengembangkan teknologi pembakaran sampah (incinerator) yang ramah terhadap lingkungan, namun hal ini masih menjadi perdebatan panjang karena sampai saat ini masih belum ada teknologi incinerator yang dapat menjamin tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungannya. Pilihan yang terakhir adalah dengan melakukan pembuangan secara terkontrol (sanitary landfill), artinya limbah yang dihasilkan ditimbun dalam tempat dengan lapisan khusus sehingga tidak menimbulkan pencemaran bagi air tanah, selain itu dalam jangka waktu tertentu sampah ditimbun dengan tanah untuk meminimalkan polusi udara. Detil pengelolaan menggunakan sistem sanitary landfill tidak saya jelaskan dalam tulisan ini, karena terlalu panjang ~malu . Pilihan pertama sampai dengan keempat merupakan sebuah keharusan yang mutlak diupayakan dalam melakukan pengelolaan sampah secara terpadu, sehingga pencegahan atas kerusakan sumber daya alam untuk keberlanjutan kehidupan di masa depan dapat mewujud. Berbicara tentang perkotaan di Indonesia sebenarnya sudah menerapkan piramida ini namun piramidanya dibalik, itupun tidak menggunakan sistem sanitary landfill namun ditimbun begitu saja. :P )

1 Komentar »

  1. didut (BINTARI) berkata

    hehe~ akhirnya bertemu dengan karya mas Kris di dunia maya :D

    jadi ingat masa mahasiswa dulu, tanpa internet soeharto belum tentu juga tumbang hehe……para penulis kamus oxford dulu juga tidak pernah berjumpa secara langsung namun bisa berbuat sesuatu:-)

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar