Meski Cacat Ikut Mengolah Sampah

Oleh: Christianto

Artikel ini pernah dimuat di Majalah Pendopo – Pusdakota Ubaya

 

Bersih sekali!!, bombastis memang, namun itu yang terucap ketika saya berada di Kota Kitakyushu-Jepang. Jalanan, sungai, pasar, dan lorong perkampungan hampir tidak dijumpai sampah yang berserakan. Kota yang berdiri sejak tahun 1963 ini merupakan gabungan dari tujuh kota kecil dengan total luas area 480 ribu km2. Seperti kebanyakan perkotaan di dunia, kota dengan penduduk lebih dari satu juta jiwa ini pastilah juga memiliki permasalahan dalam mengelola sampah. Namun, mereka terbukti cukup mampu menyelesaikan permasalahan sampah berkat proses panjang pembentukan karakter masyarakat. Proses pembentukan karakter masyarakat ini mewujud dalam kebijakan, manajemen dan inovasi teknologi bersih yang diterapkan oleh pemerintah kota dan terbukti dapat meminimalkan beban permasalahan sampah yang mereka hadapi.

Dalam pengelolaan sampah, kota Kitakyushu menerapkan prinsip reuse, recycle, reduce,dan rethinking dengan baik, prinsip ini bukan hanya sekedar jargon atau isapan jempol. Prinsip-prinsip tersebut membingkai seluruh produk kebijakan pemerintah dalam upaya mendorong warga kota membudayakan pemilahan dan pengelolaan sampah sejak dari sumbernya, riset dan pengembangan teknologi bersih (clean production), pembuatan model-model percontohan pengelolaan sampah, pembangunan sentra industri daur ulang (eco-town), pengembangan kampanye dan pendidikan kesadaran pengelolaan lingkungan sejak mulai dari TK sampai perguruan tinggi melalui pembangunan environmental museum, water museum, agricultural museum dan lain sebagainya.

Setiap hari, pengelolaan sampah di kota Kitakyushu melalui tahap pemilahan sampah sejak dari sumbernya berdasarkan atas kalender sampah yang dimiliki oleh setiap rumah tangga. Kalender sampah yang dimiliki oleh masing-masing rumah tangga memuat penjelasan tentang jadwal pengambilan sampah sesuai jenisnya dan cara bagaimana pembuangan yang baik. Masing-masing rumah tangga membuang sampah di kantong plastik berukuran berbeda yaitu ukuran 45, 30 dan 20 liter. Kantong plastik tersebut dapat dibeli oleh masyarakat di lokasi-lokasi tertentu yang mudah dijangkau oleh masyarakat, umumnya tempat pembelian kantong plastik sampah ini memiliki tanda berupa stiker yang menyatakan bahwa di tempat tersebut tersedia kantong plastik sampah. Pajak kebersihan pemerintah kota didapatkan dari warga yang membeli kantong plastik, masing-masing kantong plastik yang berbeda ukuran memiliki harga berbeda pula, semakin besar semakin mahal.

Setelah masing-masing rumah tangga memilah, mereka juga harus memperhatikan membuang sampah apa hari itu. Misalnya sampah kaca dibuang pada hari Rabu pertama, ketiga dan kelima setia bulannya. Sampah plastik dibuang setiap hari rabu kedua dan keempat setiap bulannya. Sampah yang dibuang tidak kemudian dibuang di depan rumah melainkan ditempatkan di stasiun penempatan sampah yang biasa dikenal dengan nama gomi Station. Stasiun penempatan sampah tersebar di 33 ribu lokasi di penjuru kota Kitakyushu. Sampah yang sudah ditempatkan di Gomi Station kemudian diambil oleh petugas kebersihan dengan menggunakan truk pengangkut sampah. Pola pengambilan sampah oleh petugas yaitu pengambilan dilakukan setiap hari jam 08.30 pagi, Petugas biasanya terdiri dari dua sampai tiga orang, satu mengemudikan truk, sementara yang lain mengambil sampah. Truk berjalan perlahan mengikuti petugas sampah yang berjalan untuk memunguti sampah di Gomi Station. Tumpukan sampah di Gomi Station diambil satu per satu. Setiap memasukkan sampah ke dalam truk bagian belakang, petugas menekan tombol yang ada di bagian belakang truk, tombol ini gunanya untuk mengepres sampah yang baru dimasukkan agar masuk ke bagian terdalam dari truk. Para Petugas kebersihan mengenakan tampil rapi, mereka berseragam berwarna abu-abu cerah dan mengenakan topi, mereka berangkat dari lokasi kantor kebersihan milik pemerintah kota secara beriringan membawa truk-truk besar. Setiap pagi para manajer di kantor Dinas kebersihan berjajar rapi di depan kantor kemudian memberikan hormat kepada masing-masing petugas kebersihan yang berangkat mengambil sampah di masing-masing Gomi Station. Melihat ini saya benar-benar salut, para manajer memberi ucapan selamat bekerja dengan cara berajar di depan kantor dan memberi hormat kepada mereka yang berangkat mengambil sampah. Petugas sampah dikota ini benar-benar dihargai, dimanusiakan.

Lain persoalan dengan pengelolaan sampah di ruang publik. Untuk mengatasi permasalahan ini Pemerintah Kota menyediakan banyak tempat sampah dengan desain yang unik dan menarik. Tempat sampah juga dibedakan berdasarkan atas jenis sampah yang dibuang yaitu kaca, plastik, logam, dan kertas.

Semua sampah yang telah diangkut dikumpulkan di lokasi incinerator (mesin pembakaran sampah). Kota Kitakyushu masih mengandalkan teknologi pembakaran sampah menggunakan incinerator. Walaupun dalam pengoperasiannya selalu merugi dan incinerator yang digunakan masih belum memiliki keunggulan kompetitif dalam menekan gas buang yang sifatnya karsinogenik, kota ini benar-benar masih bergantung dengan teknologi ini. Kota ini memiliki tiga incinerator yang kesemuanya masih bisa difungsikan. Ketika saya melakukan kunjungan studi di salah satu lokasi incinerator di Kota Kitakyushu, saya mendapati sedikit sekali Sumber Daya Manusia yang diserap untuk mengoperasikan incinerator. Sementara pengoperasiannya begitu kompleks, dibutuhkan tenaga profesional yang mumpuni untuk mengoperasikan incinerator yang digunakan, semua terkomputerisasi yang menjamin tingkat presisi tinggi bagi pemenuhan standar keamanan. Saya mendengar bahwa Kota ini membangun satu incinerator lagi pada tahun 2005 lalu, incinerator yang ramah lingkungan ujar Takeuchi San salah satu direktur bagian di pemerintah kota Kitakyushu. Produk dari pembakaran sampah menggunakan incinerator ini adalah debu dan energi listrik. Debu incinerator digunakan oleh pemerintah untuk membuat daratan baru, salah satunya digunakan untuk pengembangan kawasan Eco Town ( sentra industri daur ulang). Sementara itu, energi listrik yang dihasilkan dijual ke pihak swasta.

 

Pemilahan sampah tahap akhir, pemilah sampah umumnya adalah para penyandang cacat (disable people)

 

Di sekitar lokasi incinerator didapati juga ruangan-ruangan besar yang intinya adalah untuk mengolah sampah. Beberapa ruang yang saya jumpai adalah ruang untuk pemilahan tahap akhir, ruang pengepresan dan pengepakan sampah plastik, kaca, kaleng dan besi, serta ruang daur ulang sampah furniture. Tentunya, proses pemilahan yang dilakukan oleh warga masih ada yang tidak sempurna, sehingga pemilahan tahap lanjut mutlak dilakukan. Ada tutup yang masih menancap di mulut botol, sampah kaca atau besi yang masih tercampur dengan sampah plastik dan masih banyak lagi. Ruang pemilahan tahap akhir inilah yang difungsikan untuk memperoleh sampah yang akan digunakan sebagai bahan baku untuk diproses menjadi produk plastik, kaca, besi, pakaian dan lainnya. Ruang pemilahan terletak di lantai ke dua. Ruangan ini dilengkapi dengan belt conveyor (ban berjalan) yang di masing-masing sisinya didapati orang-orang yang dengan tangkas dan cekatan mengambil sampah yang belum terpilah secara sempurna. Mereka menggunakan pelindung topi, masker, clemek, sarung tangan dan sepatu boot. Di samping masing-masing orang yang memilah sampah terdapat beberapa kotak berlubang dan terhubung dengan bangunan dibawah. Dengan telaten mereka melakukan pemilahan, sampah yang masih memiliki nilai jual dimasukkan dalam kotak-kotak berlubang di sisi kanan dan kiri mereka. Mereka yang melakukan pemilahan umumnya adalah para penyandang cacat. Pemerintah kota memberikan ruang bagi penyandang cacat untuk terlibat dalam pengelolaan sampah dan kebersihan di Kota Kitakyushu.

 

Gambar Kaleng-Kaleng bekas setelah dipilah oleh para penyandang cacat dan dipres, siap diangkut ke lokasi pabrik daur ulang.

 

Pemerintah Kota juga menggalakkan kegiatan pengomposan, beberapa model percontohan dikembangkan dan dibangun untuk mendorong warganya melakukan kegiatan pengomposan. Saya berkunjung di beberapa model pengelolaan kompos antara lain pengelolaan sampah organik yang dihasilkan oleh rumah tangga, pengelolaan sampah kebun, pengelolaan sampah ternak dan bio toilet yaitu pengelolaan kompos dari limbah tinja manusia. Kegiatan ini hasil kerjasama Pemerintah dengan pihak swasta, LSM, lembaga pendidikan dan warga masyarakat. Salah satu pihak swasta yang membuat model pengelolaan kompos skala rumah tangga adalah J-Power, tempat dimana saya belajar dasar pengomposan dan pengelolaan lingkungan di Kota Kitakyushu. Awal saya terheran dengan J-Power, perusahaan ini memiliki core business di bidang riset dan pengembangan energi alternatif misalnya pembangunan energi listrik dengan menggunakan air, angin, dan arang. Namun, perusahaan ini masih memberikan ruang untuk melakukan kajian-kajian mendalam pemanfaatan sampah rumah tangga. Di perusahaan ini saya mengenal Bapak Koji Takakura yang setiap hari selama satu bulan mendidik saya tentang bagaiamana pengomposan dan bagaimana pengelolaan lingkungan seharusnya. Saya biasa memanggil dirinya takakura San, lebih akrab. Beliau berpenampilan sangat sederhana, santun, serius namun, sederhana dalam menjelaskan teori-teori yang sebenarnya sukar untuk dipahami, dan humoris. Hal ini membuat suasana elajar menjadi lebih hidup, ketika sudah mulai bosan tak jarang kami keluar untuk melihat berbagai macam pembelajaran di luar ruangan misalnya laboratorium, praktek, dan studi lapang.

J-Power melalui takakura San, mengembangakan sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas. Mereka menggunakan tong-tong plastik yang telah didesain sedemikian rupa disesuaikan dengan pilihan teknologi yang digunakan. Terdapat sekitar 200 kepala keluargaberpartisipasi dalam program yang dikembangkan. Masing-masing rumah tangga memasukkan sampah organik dalam tong yang telah disediakan oleh pihak J-Power. Setiap memasukkan sampah organik ke dalam tong, mereka menaburkan mikroorganisme alami yang terbuat dari campuran bekatul dan sekam diatas sampah organik. Merka melakukan hal ini sampai kurun waktu satu bulan, kemudian dua orang dari J-Power melakukan pengambilan sampah organik yang telah diolah di warga menggunakan sebuah mobil pick-up yang mengangkut tong-tong kosong untuk mengganti tong-tong yang sudah penuh dengan sampah di masing-masing rumah tangga. Saya saat itu pernah diber kesempatan untuk mengikuti siklus pengambilan sampah, kemudian saya melakukan wawancara dengan beberapa rumah tangga yang berpartisipasi dalam program ini. Mereka menyatakan bahwa tidak merasa keberatan atau kerepotan dengan sistem pengelolaan sampah yang diterapkan. Mereka mengaku bahwa program ini perlu dilakukan karena dapat menyelamatkan lingkungan sehingga tetap terjaga, selain itu juga menghemat uang karena tak perlu membeli kantong plastik untuk membuang sampah.

 

 

4 Komentar »

  1. isackf berkata

    Cerita yang menarik, webblognya juga keren, asik. Salam kenal.

    Thanks ya, hanya otodidak aja kok menulis dan membuat weblog

  2. kharisma berkata

    Wow…!!!
    salam kenal maz!
    aq ma temen2 baru aja nyelesin proyek tentang aksesibilitas bagi difabel di ruang publik.kami cuma anak2 sma lho!hehehe
    Kami bikin film, roadshow, dan pameran foto.
    Dari proses bikin film dsb2
    kami mendapat pengalaman yang luarbiasa
    bertemu dengan orang2 yang kompeten terhadap masalah itu,
    dihantam berbagai macam kritikan,
    wah, ampe kita kebal dweh…
    Dan semua itu berbuah maniz…
    Roadshoe kami sukses!
    Banyak anak sma yang menjadi lebih care tentang masalah ini.

  3. zie berkata

    hebat!!!!!!
    aq ska ma artikelnya. Tapi lo bs tlong krmin brita tentang bahaya limbah kaleng ke emailQ yah,cz q lg bwt tgas skul.
    thx.

  4. Vick berkata

    ada incinerator yang baik, murah, cepat dan ramah lingkungan punya maxpell technology. pernah di tes sama incineratornya itb dan lipi di universitas widyatama, akhirnya yg dibeli oleh widyatama incinerator punya maxpell. Incinerator buatan anak bangsa ini ternyata dapat menjawab semua permasalahan sampah dan diakui oleh WHO sebagai inovasi teknologi incinerator yang paling canggih. tidak hanya ramah lingkungan juga tidak mengakibatkan gangguan kesehatan bagi manusia. untuk informasi lengkapnya silahkan lihat di http://www.maxpelltechnology.com/incineratorsampah.php

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar